Penerapan Green Science pada Martha Tilaar Group

Semua kegiatan manusia, baik yang sederhana maupun memanfaatkan teknologi canggih, akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Bahkan, banyak dari kegiatan tersebut yang justru mencemari bahkan merusak lingkungan. Keadaan ini juga diperburuk dengan adanya ledakan jumlah penduduk di bumi, eksplorasi sumber-sumber bahan alam yang tidak dapat diperbarui, serta meningkatnya industrialisasi dan polusi. Salah satu akibat dari semua itu ialah terjadinya pemanasan global yang dampaknya dapat dirasakan di seluruh belahan bumi, mulai dari perubahan cuaca, tanah, air, udara, yang akhirnya berpengaruh pada kehidupan manusia.

Isu pemanasan global yang menggaung akhirnya semakin meningkatkan kesadaran manusia untuk lebih peduli terhadap lingkungan dalam segala aspek kehidupannya. Cara pandang ini kemudian melahirkan green science yang kini menjadi perhatian dunia. Green science merupakan aplikasi dari pemikiran ecofriendly (ramah lingkungan) dari berbagai disiplin ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pemanasan global, polusi serta dampak lain terhadap alam dan bumi serta aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

 

 

EMPAT TAHAP GREEN SCIENCE MARTHA TILAAR GROUP

Pendiri Martha Tilaar Group (MTG), Dr. (H.C) Martha Tilaar, yang telah berdedikasi selama lebih dari 40 tahun di bidang kosmetik dan jamu Indonesia juga menginginkan adanya penerapan sumber daya yang berkelanjutan pada saat pengembangan dan manufaktur produk, serta di hasil akhir produksemacam iniUntuk memenuhi hal tersebut, Martha Tilaar Innovation Center (MTIC) punmengembangkan suatu pohon konsep green science untuk diaplikasikan di Martha Tilaar Group, khususnya PT Martina Berto, Tbk.

 

Dalam buku Pioneers in Green Science: Beberapa Model Penerapan Konsep Ramah Lingkungan di Indonesia yang diluncurkan tahun 2011, konsep Green Science di PT Martina Berto Tbk. dibagi dalam 4 tahapan pengembangan produk, dari awal hingga akhir.

 

  • Tahap pertama konsep green science adalah Sumber Daya Hijau yang terdiri dari pengetahuan hijau, budidaya hijau dan pertanian organik, standarisasi bahan baku tanaman, penelitian hijau, serta kemasan daur ulang.

 

  • Tahapan kedua adalah Pengembangan Hijau yang meliputi teknologi ramah lingkungan, memenuhi ketentuan yang berlaku, proses yang efisien, tidak diuji pada hewan, disain kemasan minimals dan sederhana, serta kolaborasi hijau. 

 

  • Tahapan ketiga yaitu Proses Hijau termasuk proses operasional yang aman, proses produksi yang efisien dan pengurangan limbah, penghematan energi serta pengendalian lingkungan.

 

  • Setelah melalui ketiga langkah diatas, maka akan dihasilkan Produk Hijau yang ramah lingkungan, aman untuk manusia, dan limbah yang ramah lingkungan. Di samping juga melakukan pelestarian tanaman langka dan keanekaragaman hayati.